Sabtu, 12 Januari 2013
Oleh: Fahmi Salim
TUDUHAN
penulis buku “40 Masalah Syi’ah” terhadap para sahabat semakin
menjadi-jadi ketika mengatakan, “Aisyah, Thalhah, Zubair dan
sahabat-sahabat yang satu aliran dengan mereka memerangi imam Ali.
Sebelumnya mereka berkomplot untuk membunuh Utsman”. Pertama, karena ia
tidak menyebutkan sumber primer sejarah dalam hal ini. Kedua, karena
soal perselisihan antara Khalifah Ali dengan Aisyah, Thalhah, Zubair dll
itu adalah perkara ijtihad mereka dalam soal menuntut balas atas
kematian Khalifah ke-3 Utsman bin Affan, bukan semata-mata perselisihan
itu karena hawa nafsu dengan istilah ‘memerangi’ tanpa alasan jelas dan
pasti. Ketiga, karena ia berani menyatakan bahwa mereka itu “sebelumnya
berkomplot untuk membunuh Utsman”, dan dinyatakan sebagai “fakta
sejarah” seolah-olah valid.
Sejatinya, pemberontak dan pembelot
yang menyebabkan Khalifah Utsman terbunuh adalah para pengikut Abdullah
bin Saba’, Awbasy Arab dan orang-orang Mesir yang dipimpin oleh
Al-Ghifaqi bin Harb al-Ukba, sebagaimana dipaparkan oleh kitab-kitab
tarikh seperti Tarikh Thabari, Al-Kamil fi Tarikh Ibnul Atsir, Muruj
al-Dzahab karya al-Mas’udi (sejarawan Syi’ah), al-Bidayah wa al-Nihayah
Ibnu Katsir, Thabaqat Ibn Sa’ad, Al-Isti’ab dan lain-lain. Tak ada
satupun sumber primer sejarah menyebutkan sahabat yang dikemukakan
penulis itu terlibat dalam pembunuhan Utsman. Bahkan fitnah itu tertolak
oleh riwayat Al-Mas’udi sendiri dalam Muruj al-Dzahab (vol.2/344-345)
bahwa Thalhah, Zubair, Ali dan lain-lain mengirimkan putra-putra
terbaiknya untuk membela khalifah Utsman dan menjaga rumahnya dari
serangan para pemberontak.
Khusus mengenai fitnah kepada Aisyah
yang dikatakan penulis ikut berkomplot membunuh Utsman, maka dugaan kuat
saya, ia kutip dan ambil tanpa penyaringan lagi dari Kitab Al-Muraja’at
karya tokoh Rafidhah modern Abdul Husain Al-Musawi, “Aisyah
memprovokasi khalayak dengan memerintahkan mereka agar membunuh Utsman
bin Affan: “Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” (Catatan:
Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (Syarafudin al-Musawi,
Dialog Sunnah-Syi’ah, Cet. MIZAN 1983, hal.357). Selain itu, secara
halus penulis mengisyaratkan ‘kekafiran’ mereka dengan ungkapan, “Dengan
begitu, mereka menentang wasiat Nabi SAW pada khotbah wada’ ‘Janganlah
kalian kafir setelah aku tiada dan saling membunuh’…” [Shahih
al-Bukhari, hadis 5688]). Suatu kekejian yang luar biasa.
Riwayat perkataan Aisyah itu, setelah
ditelusuri, bersumber dari riwayat sosok bernama Nashr bin Muzahim yang
oleh semua ulama jarh wa ta’dil dinilai lemah dan rusak. Lihat
al-‘Uqaili dalam Al-Dlu’afa vol.4/300, Mizan Al-I’tidal vol.4/253,
Tarikh Baghdad vol.13/282. Sementara riwayat yang benar adalah Aisyah
tidak terlibat dalam upaya apapun, termasuk provokasi, untuk membunuh
khalifah Utsman seperti diriwayatkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah,
Thabaqat al-Kubra, dan Al-Bidayah wa al-Nihayah.
Masih dalam soal ‘fitnah’ penulis
terhadap sahabat adalah upaya mendiskreditkan Muawiyah bin Abi Sufyan
dengan ucapan Hasan al-Bashri (hal.83). Sebagai intelektual, sewajarnya
penulis menelusuri riwayat dari Hasan Bashri itu benar atau tidak.
Setelah ditelaah, ternyata ucapan itu bersumber dari riwayat At-Thabari
yang berasal dari Abu Mikhnaf Luth bin Yahya al-Kufi yang ditolak dan
dinilai lemah dan rusak oleh semua ulama jarh wa ta’dil seperti
al-Dzahabi, Ibnu Hajar, Abu Hatim dan lain-lain. Bahkan ia mengutip dari
Ibnul Atsir dalam Tarikh-nya, namun ternyata ucapan itu disebutkan
tanpa sanad sama sekali dalam kitab itu. Jelasnya, upaya ‘menggebuk’
Muawiyah dengan ‘tangan’ Hasan al-Bashri, adalah usaha sia-sia.
Terkait
tuduhan Syi’ah kepada Khalid bin Al-Walid ra telah membunuh Malik bin
Nuwairah dan menikahi istrinya di malam hari (hal.84). Tertolak oleh
fakta berikut ini:
- Soal pembunuhan Malik bin Nuwairah,
adalah dibenarkan karena Malik adalah pemimpin kaum penolak zakat di
masa Khalifah Abu Bakr, atau karena ia mengikuti Nabi palsu Sajah,
sehingga Khalid membunuhnya karena ada alasan itu. Alasan itu tidak
dapat digunakan dalih untuk mengqishas Khalid, sebagaimana perkara
tersebut dulu pernah menimpa Usamah bin Zaid saat ia membunuh musyrik
yang telah mengucapkan La Ilaha Illa Allah, yang membuat Nabi marah,
namun Nabi tidak menerapkan qishas atas Usamah pada peristiwa itu.
- Soal tuduhan Khalid mengawini istri
Malik, adalah kebatilan dan dusta. Coba tunjukkan satu sanad yang sahih
dalam kisah mitos itu! Cerita palsu itu sengaja dikarang-karang oleh
Syi’ah untuk membunuh karakter sahabat Nabi yang banyak berjasa menumpas
kaum murtad dan melakukan futuhat. Seperti halnya imajinasi kaum
orientalis yang menyerang karakter Nabi dalam kasus pernikahan beliau
dengan Zainab binti Jahsy ra, bekas istri Zaid bin Haritsah, putra
angkat beliau.
Terakhir,
dalam Soal keadilan sahabat Nabi mari kita renungkan beberapa hal
berikut ini dan kita tanyakan hati kita dengan jujur, masihkah para
sahabat layak dituduhkan sebagai kaum munafik dan kafir:
-
Apakah masuk akal Allah telah memuji para sahabat Nabi, sementara
mereka adalah orang-orang munafik, kafir dan murtad? Apakah Syi’ah juga
menuduh Allah ta’ala sedang bertaqiyah pula?!
-
Bukankah Nabi Muhammad saw melarang kita untuk duduk akrab dengan
ahlussu’ dan ahli bid’ah apalagi dengan ahli kafir dan murtad. Menurut
Syi’ah, Nabi ternyata sangat akrab dengan orang-orang murtad dan munafik
yang tak lain adalah sahabat-sahabatnya itu. Maka siapa yang pantas
disalahkan? Mengapa pula Allah tidak melindungi Rasul-Nya dari segala
makar sahabat Nabi yang ‘murtad’ itu?
-
Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam perintahkan kita
untuk mengambil menantu dan mertua dari kalangan orang-orang baik dan
shaleh, ahli agama dan berakhlak, serta melarang kita menjalin ikatan
darah keluarga dengan ahli maksiat apalagi yang kafir dan murtad? Tapi
mengapa beliau sendiri yang melanggar ketetapan tersebut?
-
Kaum munafik di periode Madinah telah dijelaskan kelakuan dan perangai
orang-orangnya di dalam Al-Qur’an yaitu, mereka yang malas berjihad dan
enggan berinfak untuk membantu perjuangan Islam, mereka bahkan membantu
musuh-musuh Allah dari kalangan musyrikin dan ahlikitab untuk
menghancurkan Islam dan umatnya dalam banyak peperangan. Mereka juga
mendirikan masjid dhirar sebagai pusat makar, pengintai untuk
kepentingan kafir, strategi untuk menghancurkan Islam dll. Apakah para
sahabat besar dan utama yang terkenal memiliki karakter seperti itu
semua?
-
Para pendiri Negara modern sangat selektif memilih para pendukung
setianya untuk menopang proyek kenegaraan yang baru dibangunnya susah
payah. Apakah logis jika Allah menelantarkan Nabi-Nya dari ri’ayah
(pertolongan) dan ishmah sehingga Rasul memilih ‘gerombolan munafik dan
kafir’ untuk menolong beliau dalam menyebarkan agama Allah? Apakah logis
jika Allah sengaja membiarkan Rasul-Nya gagal dalam menegakkan risalah
akhir zaman dan membangun umat percontohan bagi seluruh umat manusia?
Penutup & Kesimpulan
Demikianlah,
sekilas catatan khusus saya terhadap buku 40 Masalah Syiah yang dibedah
pada tanggal 17 Desember 2012. Buku itu, menurut Jalaluddin Rakhmat,
dalam pengantarnya, ditulis untuk “Tumbuhnya saling pengertian di antara
mazhab-mazhab dalam Islam”, bahkan juga “Kami memberikan buku ini
kepada seluruh anggota IJABI sebagai PEDOMAN DAKWAH mereka” (hal.13).
Setelah penjelasan luas di atas, para
pembaca dapat menyimpulkan sendiri apakah buku tersebut telah berhasil
memenuhi tujuannya atau malah semakin memperuncing dan memperburuk
situasi dan relasi Sunni dan Syi’ah di Indonesia? Dapatkah buku yang
secara gamblang dan vulgar mendemonstrasikan berbagai tipu daya
memutarbalikkan fakta, -tentu hanya bisa dilacak oleh pembaca ahli bukan
orang awam-, dan memfitnah para sahabat Nabi, -seperti diuraikan dalam
makalah ini-, dapatkah menumbuhkan saling pengertian di antara Sunni dan
Syi’ah? Saya sangat kuatir, jika buku “Pedoman Dakwah” IJABI seperti
ini isinya, maka ia akan menjadi buku “Pedoman Fitnah” terhadap
Ahlusunnah di Indonesia. Bukannya menjadi “Pedoman Dakwah” yang
menyuburkan semangat bil hikmah dan mau’idhah hasanah serta mujadalah
bil ahsan, alih-alih akan menjadi buku “Penyesatan Dakwah” dan “Pemecah
Belah Ummat” yang akan menjadi sumber masalah ketimbang menyelesaikan
masalah. Tidak mungkin rasanya melahirkan sikap “saling pengertian antar
mazhab dalam Islam”, jika masih terus menerus melakukan pemutarbalikan
dan distorsi terhadap ajaran dan sejarah Islam.
Ketika penulis berkesempatan
menanggapi semua kritik saya di atas, ia hanya bisa mengatakan bahwa
sebaiknya saya dan para audiens penanggap menjauhi ‘violence
communication’ (kekerasan komunikasi) seperti tuduhan pemutarbalikan
fakta, fitnah, tidak jujur dsb. Sayangnya, saya tidak tidak diberi
kesempatan lagi menanggapi penulis, karena moderator mengatakan waktu
sudah habis tepat jam 12 siang. Padahal saya ingin sampaikan, apakah
Jalaluddin Rakhmat tidak menyadari bahwa dirinya sendiri yang telah
melakukan kekerasan dan terror mental dan akal ketika menumpahkan segala
tuduhan dan fitnah kepada para sahabat Nabi lalu dengan entengnya
mengatakan bahwa itu adalah “fakta sejarah” yang mesti diterima oleh
kaum muslim?! Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil. Sekian, wallahu a’lam.
[selesai]
Penulis adalah Komisi Pengkajian MUI dan Wasekjen MIUMI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar