***
ADA sebuah kisah yang cukup menarik untuk disimak
yang menggambarkan betapa seorang suami sangat butuh respon positif dari
istrinya manakala sang suami tengah menghadapi masa-masa yang sulit dan
mengelisahkan. Kisah tersebut dialami oleh Rasulullah Muhammad
Shallallahu’alaihi Wassalam bersama istri beliau, Khadijah.
Aisyah bertutur, “Awal permulaan wahyu kepada Rasulullah Muhammad
Shallallahu’alaihi Wassalam adalah mimpi yang benar. Beliau tidak
melihat sesuatu mimpi, kecuali mimpi tersebut datang seperti cahaya
subuh. Kemudian beliau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah beberapa
malam sebelum kembali ke keluarganya dan mengambil bekal untuk
kegiatannya itu sampai beliau dikejutkan oleh kedatangan Malaikat Jibril
pada saat berada di Gua Hira.
Malaikat Jibril mendatangi beliau dan berkata, “Bacalah!”
Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam n menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”
Beliau menuturkan, “Lalu malaikat itu memegang dan mendekapku sampai aku merasa lelah. Kemudian ia melepaskanku dan megnatakan, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca!’
Beliau menuturkan, “Lalu malaikat itu memegang dan mendekapku sampai aku merasa lelah. Kemudian ia melepaskanku dan megnatakan, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca!’
Malaikat itu mengulanginya untuk yang ketiga sambil mengatakan, “Iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq; bacalah, dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Al-’Alaq [96] : 1).
Kemudian Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam pulang.
Kepada istrinya, Khadijah, beliau berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.”
Lalu beliau diselimuti sampai rasa keterkejutannya hilang. Kemudian
beliau menceritakan apa yang terjadi kepada Khadijah. “Aku Khawatir
terhadap diriku.”
Khadijah menjawab, “Tidak. Demi Allah, sama sekali Dia tidak akan
menghinakanmu selamanya. Sebab, engkau orang yang mempererat tali
persaudaraan dan memikul beban orang lain. Engkau orang yang menghormati
tamu, membantu orang yang susah, dan membela orang-orang yang berdiri
di atas kebenaran.” (HR. Bukhari).
Dekaplah suamimu. Sebagain orang memandang itu hanya
layak dilakukan di saat-saat bulan madu. Seakan-akan masa-masa romantis
itu hanya ada di awal-awal pernikahan. Seolah-olah perhatian kepada
pasangan terlihat dan terwujud permulaan membanggun rumah tangga.
Bukan seperti itu. Kedekatan antara suami istri
tetap diperlukan, seberapaun usia pernikahan Anda. Suami Anda butuh
dampingan dari istri, guna memberikan secercah harapan dalam mengerakkan
bahtera rumah tangga. Saat suami gelisah, khawatir, dan cemas, yang
diperlukan adalah ketenangan. Bila mengetahui kondisi demikian, maka
seyogyanya seorang istri sigap dan segera memberikan ketenangan bagi
sang suami. Tak jarang kita temui para istri yang acuh tak acuh
menyaksikan kondisi suaminya yang tengah dilanda kecemasan. Sehingga,
sang suami merasa seolah-olah hanya dia yang menanggung beban tersebut.
Segeralah beri kesejukan pada suamimu. Segeralah
beri ketenangan padanya. Segeralah bersikap seolah-olah engkau ikut
serta dalam masalah yang tengah dihadapinya. Niscaya itu merupakan resep
mujarab yang dapat mendatangan ketenangan baginya.
Sekali lagi, berilah ketenangan pada suami. Jangan
sampai suamimu merasakan bahwa ia hidup sendiri. Tunjukkan empatimu
padanya. Berikan solusi terbaik padanya. Berikan motivasi padanya. Pompa
semangatnya. Munculkan harapan baginya. Semoga, keharmonisan tetap
menyapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar